Kesalahan Dasar Para Founder: Sindrom Steve Jobs

Aku menemukan "sindrom Steve Jobs" di beberapa founder yang kukenal. Seperti apa sindrom ini?

Kesalahan Dasar Para Founder: Sindrom Steve Jobs
Photo by Lala Azizli / Unsplash

Aku sudah bekerja sama dengan banyak founder start-up, baik secara langsung sebagai karyawan, atau sebagai konsultan dan pekerja paruh waktu.

Dari sekian banyak founder yang kukenal itu, ada satu kesalahan fatal yang mereka lakukan. Kurasa, kesalahan ini juga umum kita temukan di dunia development.

Satu kesalahan itu adalah: menciptakan produk atau fitur yang tidak dibutuhkan user.

Lho, kok bisa?

Iya, soalnya mereka membangun produk atau fitur berdasar ide dan keinginan mereka sendiri.

Padahal, user bukan cuma mereka.

Tapi, ego sebagai seorang founder terkadang mengalahkan segalanya. Mereka pikir, hanya karena mereka adalah founder - yang terkadang adalah penyandang dana juga, mereka tahu segalanya.

Alhasil, produk yang dihasilkan gagal di pasaran.

Karena ya itu tadi, perancangan produk tidak memperhitungkan apa kata pasar.

Aku sebut kenyataan ini adalah "sindrom Steve Jobs" (aku tidak tahu apakah sudah ada istilah semacam ini).

Beberapa founder merasa diri mereka adalah Steve Jobs. Mungkin mereka sudah membaca biografi Steve Jobs, menonton film tentang Steve Jobs, lalu merasa menjadi founder adalah melakukan apa yang dilakukan oleh Steve Jobs.

Tidak salah, jika kita meng-copy apa yang membuat Steve Jobs berhasil.

Tapi ingat, kita bukan Steve Jobs. Kita tidak sejenius Steve Jobs.

Nah, para founder ini merasa sah-sah saja mengawal produk hingga ke sedetil-detilnya - tidak masalah jika mereka adalah Steve Jobs yang memang punya kapabilitas dan ilmu berlebih.

Masalahnya, mereka para founder ini - sekali lagi aku tekankan - bukanlah Steve Jobs.

Jadi, alih-alih membantu pekerjaan tim desainer dan developer, mereka malah "merecoki" atau fatalnya, mengobrak-abrik kinerja tim.

Alhasil, rilis produk jadi mundur. Rancangan fitur yang telah disepakati, dirombak walau sudah dibangun dengan susah payah.

Lebih payah lagi jika ini terjadi pada tim kecil.

Kalau sudah demikian, aku hanya mundur perlahan dan ambil positifnya saja.

Positifnya: biar founder itu saja yang berpikir. Aku dan tim fokus pada pengerjaan.

Waktuku yang banyak tersisa, bisa kualokasikan pada hal lain. Proyek di luar kantor, misalnya.

What? Tidak etis? Ah, itu biarlah untuk bahasan lain saja. Kalau mereka memperlakukanku seenaknya, demikianlah juga yang akan kuperbuat.

Subscribe to ESVDM

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe