Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Meski tidak sespektakular "Sophie's World", karya Jostein Gaarder yang satu ini tetap membuatku terkesima sesekali.

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Photo by Jonathan Francisca / Unsplash

Jostein Gaarder terkenal banget dengan karyanya, "Sophie's World", yang sudah membantu jutaan pembacanya berkenalan dengan dunia filsafat.

Aku baru menyadari bahwa Jostein Gaarder juga menulis buku anak-anak.

Lewat aplikasi iPusnas yang gratis, aku menemukan buku ini. "Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken", judulnya.

"Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken", Jostein Gaarder (1993)

Ceritanya tentang petualangan sepasang sepupu, Nils Boyum (12 tahun) dan Berit Boyum (10 tahun) saat bertemu sosok misterius Bibbi Bokken.

Sesuai judulnya yang mengandung kata "perpustakaan", cerita dalam buku ini didominasi dengan buku, dan perpustakaan.

Agak membingungkan, pada awalnya, karena aku harus membiasakan diri dengan nama-nama Norwegia yang susah kuhafal.

Plus, format bacaan di aplikasi iPusnas (Android version) yang terkadang tidak user friendly membuatku kesusahan beralih ketika penceritaan dari sudut pandang Nils berganti dengan penceritaan dari sudut pandang Berit.

Karena ini buku cerita anak-anak, tentu saja petualangan Nils dan Berit terasa "receh" bagiku.

Tetapi, aku susah membayangkan seorang anak membaca buku ini. Berat, bosque.

Atau ini memang standar bacaan anak-anak Norwegia?

Tetap sih, ada bagian-bagian yang kusukai.

Plot cerita yang lompat-lompat lincah, membuatku menuntaskan buku ini dalam dua hari. Not bad untuk sebuah buku dengan 294 halaman.

Ada satu adegan yang aku suka banget.

Ketika Berit (atau Nils?) melihat betapa mengagumkannya perpustakaan Bibbi, dia berpikir bahwa betapa menakjubkan, 26 huruf bisa terjalin dan terejawantahkan menjadi ratusan bahkan ribuan buku yang memenuhi sebuah perpustakaan.

Hanya dari 26 huruf.

Itu, terus terang, baru terpikir olehku.

Menakjubkan, ya?

Dan, kita takkan pernah tahu kapan aliran buku itu akan terhenti karena tak ada lagi kata baru yang bisa tercipta. Rasa-rasanya, takkan pernah berhenti.

Pengalaman manusia selalu terbarui. Kata-kata dan rasa seiring tercipta. Tak ada kata henti kecuali ketika peradaban berhenti.

Subscribe to ESVDM

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe