Perjalanan Karir yang Biasa-Biasa Saja Tetapi Membuat Hidupku Luar Biasa

Dua puluh tahun lebih pengalamanku di dunia kerja. Biasa saja, tetapi itu membuat hidupku luar biasa.

Perjalanan Karir yang Biasa-Biasa Saja Tetapi Membuat Hidupku Luar Biasa
Photo by Razvan Chisu / Unsplash

Setiap hari aku melihat penasihat karir atau soal kerjaan bermunculan di berbagai media sosial. Beberapa nama yang tidak pernah kudengar sebelumnya, tiba-tiba muncul sebagai konsultan istilah kerennya, "coach" yang mengajarkan abcde seputar karir.

Ini menggembirakan sekali.

Coba bandingkan dengan saat aku memasuki dunia kerja dahulu. Tidak ada bimbingan khusus. Internet masih barang mewah. Media sosial masih cenderung buat bersosial beneran.

Kalau kupaparkan sedetilnya perjalanan karirku, pasti orang-orang yang mengenalku di dunia nyata akan bisa menebak siapa penulis di balik blog ESVDM ini.

Tapi bodo amat. Bukankah tujuanku menulis di sini adalah benar-benar untuk menulis.

Jadi silakan simak perjalanan karirku, atau sebenarnya hanya sekadar pengalaman kerjaku.

Pertama kali aku bergabung dengan perusahaan kecil yang lantas menjadi nomor satu di Indonesia di industri mereka. Aku bergabung sedari staf mereka masih di bawah limabelas orang, hingga menyaksikan perkembangan mereka hingga karyawan ratusan orang.

Itu masa kerjaku yang paling lama. Delapan tahun. Dari sana aku mendapat banyak pengalaman, pembelajaran, dan yang terpenting: jejaring alias networking.

Setelah itu aku bergabung dengan sebuah startup yang diprakarsai bule Bali. Hanya setahun aku di sana, tetapi pelajaran yang kudapat sungguh sangat berharga.

Aku mulai berkenalan dengan web development. Mulai tahu yang namanya wireframing. Dan, meskipun startup ini gagal launching, aku tetap tidak menyesali putusan keluar dari perusahaan pertama tempatku bekerja selama delapan tahun.

Perusahaan ketiga adalah perusahaan keluarga, milik salah satu keluarga yang disegani di Bali. Hanya setahun aku bekerja di sini, lantas loncat ke startup di Jakarta.

Startup di Jakarta menjadi milestone terpenting dalam perjalanan karirku. Aku benar-benar switch dari operasional ke development, walau sebatas jadi project manager.

Tidak genap dua tahun aku disana, dan meskipun startup itu sudah menghabiskan puluhan milyar, toh mereka gulung tikar juga setahun setelah aku keluar.

Tebak, ke mana aku pergi?

Ya. Ke perusahaan pertama tempat aku pertama kali bekerja. Setelah aku keluar, aku memang masih menjalin hubungan baik dengan mantan atasan.

Kupikir aku bisa bertahan lama, tetapi ternyata suasana sudah berubah dibandingkan periode awal aku bekerja dulu.

Jadi, ketika ada tawaran untuk bergabung dengan sebuah perusahaan lain, aku tak sia-siakan. Terlebih, aku ditawari proyek yang aku suka: membangun sebuah B2B portal.

Dua tahun aku bergabung. Portal kami berhasil meluncur. Lalu sebuah godaan datang: sebuah perusahaan Malaysia mencari pekerja untuk kantor Jakarta. Karena aku boleh dibilang kenal baik dengan CEO mereka, jadilah aku bergabung.

Di perusahaan ini, aku bertahan tiga tahun. Bersama tim kecil, kami kerja remote di Jakarta. Yeah, that was before remote working were cool.

Lalu apa yang menyebabkan aku kembali berpindah ke lain hati? Bukan lain hati sebenarnya, tapi kembali ke bos lama yang memberiku kepercayaan untuk membangun B2B portal.

Kupikir, setelah itu hidupku akan melandai. Aku bisa bekerja dalam hal yang kusuka, dan aku punya waktu luang untuk menyiapkan bisnisku sendiri.

Ternyata, benar apa yang dikata: manusia berencana, Tuhan menentukan.

Pandemi datang. Hidupku jadi berantakan. Sampai sekarang, aku belum pulih benar.

Akan kuteruskan ceritaku di tulisan berikut.

Tapi, dari rentetan ceritaku di atas, aku bilang perjalanan karirku biasa-biasa saja. Perusahaan tempatku bekerja bukanlah perusahaan top seperti Paragon. Meskipun ada yang menjadi top company di industri mereka, tapi secara publik perusahaan yang kuikuti tidak begitu dikenal karena mostly mereka B2B company.

Walaupun begitu, pelajaran yang kudapat sungguhlah berharga. Cerita yang banyak dikisahkan oleh para influencer seputar dunia kerja, kebanyakan kualami juga.

Tidak semua menyenangkan. Beberapa pengalaman malah pahit dan konyol.

Tapi itulah hidup.

Sekarang, aku hanya mencoba untuk bertahan hidup. Bertahan, entah sampai kapan.

Subscribe to ESVDM

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe