"Lo Tuh Nggak Diajak!"
Salah satunya "hukum" yang terlambat aku pelajari dalam hidup adalah: "jika kau tak diundang, tak perlu memaksakan datang".
Waktu muda, aku berbuat banyak kesalahan. Beberapa hal sederhana luput dari seorang aku yang masih gegabah dan reaktif. Salah satunya "hukum" yang satu ini: "jika kau tak diundang, tak perlu memaksakan datang".
Tapi ini bukan soal undangan.
Ini seperti kata anak zaman sekarang: "lo tuh nggak diajak!"
Jadi kalau nggak diajak, mustinya tahu diri, bukannya memaksakan diri dan membuat segalanya jadi canggung.
Hanya, terkadang aku tidak tahu kalau aku tidak diajak. Lalu aku dengan polos menawarkan diri. Dan, diterima meski ternyata, itu hanya basa-basi.
* * * * *
Aku jadi teringat satu pengalaman saat aku di Sekolah Dasar (sepertinya aku akan banyak menggali dan berbagi pengalaman seperti ini).
Saat itu, sekolah sedang sibuk bersiap menyambut Natal. Berbagai aktivitas disiapkan, termasuk paduan suara.
Sepertinya aku tidak masuk dalam nama anggota paduan suara (entah, itu perasaanku sajakah?). Padahal, suaraku tidak buruk. Paling tidak, aku tidak buta nada dan tidak fals.
Apakah itu bertepatan saja, waktu itu Ibu membelikanku buku lagu-lagu Natal. Dengan semangat aku membawanya ke sekolah, dan mempelajarinya bersama teman-teman.
Setelah guru melihat bahwa aku membawa buku lagu (lagu yang akan dibawakan oleh paduan suara), tiba-tiba saja aku dipanggil untuk bergabung dalam tim paduan suara.
Itu pengalaman kecil yang membekas hingga kini. Aku yakin itu bukan kebetulan semata.
Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa (hampir) segala sesuatu bisa direkayasa. Kita bisa mendapatkan apa yang kita mau tanpa meminta.
* * * * *
Fast forward. Aku tumbuh sebagai pribadi yang gaul. Supel. Mudah masuk ke lingkungan apa saja.
Toh, karena aku jarang bersikap ekslusif, ada waktunya aku merasa ditinggalkan oleh semua.
Apalagi setelah teknologi menyerbu. Beberapa teman membuat grup WA (dulu, BBM alias Blackberry Messenger) tanpa mengikutkanku.
Dan, itu sering kali membuatku terluka. Merasa ditolak adalah trauma yang hingga kini masih menyertaiku.
Sampai akhirnya aku menemukan "hukum" yang kusebut di atas. Kalau tidak diundang, tak perlu memaksakan datang.
Toh, ujung-ujungnya kita akan mati sendirian.
Jadi mengapa resah jika kita ditolak sana-sini (dan dipanggil hanya ketika dibutuhkan). Mengapa gundah jika kita harus sendiri.