Lima Tahun Terakhir yang Sangat Berat dan Belum Berakhir

Ini cerita pengalamanku lima tahun terakhir, di berbagai perusahaan, terkena dampak pandemi, layoff, dan banyak lagi kisah lainnya.

Lima Tahun Terakhir yang Sangat Berat dan Belum Berakhir
Photo by Carolina Pimenta / Unsplash

Ini cerita lanjutan tentang perjalananku di dunia kerja mulai dari pandemi. Meskipun rentang waktunya cukup singkat, ternyata periode ini yang penuh dinamika dan kejutan.

Di tulisan sebelum ini, aku sudah cerita kalau sebelum pandemi, aku balik kerja dengan mantan bos yang dulu pernah mempekerjakanku untuk projek B2B portal.

Awalnya, aku terbujuk oleh rayuannya. Detailnya seperti apa, itu untuk cerita lain hari saja.

Aku pun kembali, kali ini mengerjakan projek lain. Bosku itu ingin membangun satu startup yang muluk-muluk deh keinginannya.

Tahun pertama berjalan dengan baik. Lalu dia (aku masih malas menyebut dia dengan "beliau" karena sungguh, sudah kering rasa hormatku padanya), dia mulai ingkar janji.

Kupikir, aku bertahan hingga aku punya cukup bekal untuk lepas dari genggamannya.

Lalu datanglah pandemi itu.

Semua terguncang.

Periode ini sungguh penuh drama. Kalau dihitung hingga saat aku menulis ini, hanya lima tahun ternyata. Tapi sungguh, lima tahun itu penuh cerita bermacam warna dan penuh rasa, lebih dari periode hidupku yang lain.

Aku ingin menuliskannya jadi sebuah buku, tetapi belum kesampaian juga.

Aku resign sebelum pandemi reda. Jadi pekerja paruh waktu. Lalu beruntung mendapat pekerjaan gara-gara seorang teman di Jakarta menawariku bergabung dengan tim yang dia pimpin.

Di titik itu, kupikir hidupku akan kembali normal. Bekerja di sebuah startup (lagi) dengan tim yang kuat, dengan aktivitas tiada henti.

Lagi-lagi, hidup menyodorkan candaan.

Aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Begitu banyak kabar burung berseliweran. Intinya, ada ketidaksepahaman antara founder startup alias CEO kami, dengan pemegang saham utama alias investor.

Perusahaan bubar. Tidak jadi headline karena memang perusahaan kami bukanlah startup ternama seperti efishery yang mengguncang Indonesia belakangan ini.

Walaupun begitu, aku estimasikan hampir 100 karyawan terkena dampak. Kebanyakan terima nasib tanpa pesangon, beberapa menggugat ke Kemenaker tapi aku tak mengikuti kelanjutan perjuangan mereka.

Lagi-lagi, cerita tentang perusahaan mendadak kolaps ini bisa jadi satu cerita panjang.

Aku menganggur, lagi.

Sementara, Indonesia belum kembali pulih dari pandemi. Berita layoff bermunculan setiap saat.

Terus terang, itu jadi salah satu periode paling menakutkan dalam hidupku.

Aku tak lagi muda. Aku tak punya tabungan. Tak punya pekerjaan. Harus bersaing dengan sekian banyak anak muda yang juga terdampak PHK.

Empat bulan aku menganggur, lalu diterima di salah satu startup (lagi) yang bergerak di bidang kesehatan (lagi).

Toh, penyakit kutu lompatku belum sembuh juga ternyata. Empat bulan aku bergabung, sebuah tawaran kembali datang.

Dan, di sinilah aku, bergabung dengan sebuah startup (lagi-lagi startup) yang mudah-mudahan menjadi pelabuhan terakhirku.

Sudah dua tahun lebih, ternyata.

Terlepas dari pekerjaanku yang menyenangkan, dan betapa bahagia bekerja di perusahaan yang paling sehat yang pernah kuikuti selama ini, tetap saja perkara melanda dari segala penjuru.

Lagi-lagi, itu buat cerita lain kali.

Perjalananku lompat sana lompat sini membuatku kaya pengalaman, dan semakin datar menjalani hidup. Rencana-rencana besar bertumbangan di tengah jalan. Kepastian bisa sontak berubah jadi ketidakpastian. Janji bisa ditarik kapan saja.

Semua yang kurasakan, mungkin akan kutumpahkan di blog ini.

Agar suatu kelak nanti, jika aku pergi, kalian tahu apa saja yang pernah kualami selama ini.

Subscribe to ESVDM

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe