Easier Said Than Done: User First Approach

"User-first approach" is easier said than done. Mengapa? Ini aku punya cerita.

Easier Said Than Done: User First Approach
Photo by Alvaro Reyes / Unsplash

Sehubungan tulisan sebelum ini tentang "sindrom Steve Jobs", aku terpikir satu konsep dalam membangun produk yang sepertinya sederhana, tetapi mudah terlupakan.

Ada satu pendekatan yang setiap product manager pasti tahu: user-first approach. (Belakangan muncul customer-first, tapi itu kita bahas lain kali.)

Sesuai namanya, user-first approach menempatkan kepentingan user alias pengguna di atas segalanya (dalam kerangka desain produk, khususnya).

Dalam mendesain satu produk atau fitur, pertama-tama kita harus menempatkan diri sebagai user. Bukan sebagai founder, investor, designer, developer, apapun itu peran kita.

Kita harus berpikir selayaknya user yang akan menggunakan produk kita. Put ourselves in user's shoes. Apakah produk ini akan mudah digunakan? Apa yang akan kulakukan jika aku melihat fitur ini di halaman yang sedang kubuka? Seperti itu.

Terlebih dari itu, pertanyaan pertama tetapi krusial adalah: apakah aku membutuhkan produk atau fitur ini?

Aku jadi teringat satu diskusi dengan teman tentang kegagalan startup. Dan, aku menemukan ini.

Sumber: Wilburlabs.com

Ada dua alasan di balik kegagalan startup yang berhubungan langsung dengan kebutuhan user, yaitu: user un-friendly product, dan no market needs.

Kedua hal tersebut bisa kita hindarkan jika sedari awal kita selalu menempatkan user dalam membangun sebuah produk.

Bagaimana caranya?

Pertama-tama, kita harus mengenyahkan ego.

Kita lakukan riset kebutuhan user seperti apa. Masalah user seperti apa. Solusi yang dibutuhkan user seperti apa.

Semua itu tidak akan tercapai jika kita tidak mengenyahkan ego kita terlebih dulu.

Setelah riset kita lakukan, dalam mendesain produk, barulah kita berperan sebagai desainer atau developer yang jelas secara teknikal lebih menguasai permasalahan dibandingkan user.

Jadi, aku rasa tetap ada garis batas di mana kita menempatkan diri sebagai user, dan di mana kita menempatkan diri sebagai problem-solver.

Aku pernah terlibat, dan sedang terlibat, proyek yang tidak peduli apa kata user. Kedua-duanya punya satu kesamaan: founder yang tidak mau mendengar. Well, founder yang pertama sungguh tolol, kuakui. Founder yang kedua sebenarnya cerdas dan aku mengagumi kecerdasan dan ide-idenya. Sayangnya, founder kedua ini terlena atas kecerdasannya dan jadilah dia sebagai sosok yang mengesampingkan user-first approach.

Next, aku akan menulis tentang customer-first approach. Tentu saja menulis ringan, sekadar meluapkan apa yang ada di pikiran.

Subscribe to ESVDM

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe