AI Membuatku (Terkadang) Malas Berpikir

Jangan sampai kita, aku tepatnya, diperbudak oleh AI dan membuat otak ini karatan.

AI Membuatku (Terkadang) Malas Berpikir
Photo by Laurenz Kleinheider / Unsplash

Kehadiran AI (Artificial Intelligence) mengguncang dunia. Sedari ChatGPT diluncurkan pertama kali di bulan November 2022, aku sudah terkesima dengan dunia baru ini.

Pengetahuan semakin mudah diakses. Dan, perkembangan AI yang makin lama makin cepat, akhirnya membuat hampir semua manusia yang mengenal internet, mengenal AI juga. Walaupun, ya, sebelum itu kita sudah banyak memakai produk berkecerdasan buatan tanpa kita labeli itu AI.

ChatGPT hadir dengan pembaruan-pembaruannya. Disusul Claude. Gemini. Llama (yang ini aku sama sekali belum pernah coba). Dan, baru-baru ini di awal tahun 2025, Deepseek dan juga Qwen dari Alibaba.

Bukan hanya bercakap, pengguna juga bisa bikin gambar atau foto. Setelah itu, video.

Walaupun di awal kemunculannya, kita sering dibuat tertawa (ingat, foto cewek cantik yang dihasilkan AI dengan enam jari?), dari hari ke hari kita makin takjub dengan kecanggihan AI yang makin mendekati sempurna.

Midjourney, Runway, Hailuo, Sora, Kling, you name it.

Belum lagi banjir tools AI untuk segala jenis keperluan kita.

Bikin konten, sekarang mudah banget. Mulai dari cari ide sampai eksekusi, mulai dari copywriting sampai image atau video content, semua bisa dikerjakan dengan bantuan AI.

Sebagai pengguna aktif AI, mulai dari kebutuhan sederhana sampai coding (ya, aku sudah bisa membuat website fully functioning dengan bantuan ChatGPT), akhir-akhir ini aku merasa otakku mulai lambat berpikir.

Atau lebih tepatnya, malas berpikir.

Hampir semua kupasrahkan pada AI. Apalagi ChatGPT sudah dilengkapi dengan task, jadi tiap pagi, siang, sore, malam, aku tinggal mengecek apa yang dikirim oleh ChatGPT untuk hari itu.

Memang tidak sehat tergantung pada AI.

Tapi, sungguh mengasyikkan bermain-main di playground nyaris tanpa batasan dan pengawasan (kecuali batasan dari platform AI itu sendiri).

Belakangan Deepseek meluncurkan deep thinking yang diikuti oleh OpenAI dengan reasoning-nya.

Apakah seperti itu otak manusia berpikir? Coba kita runut proses "berpikir" Deepseek yang memperhitungkan segala kemungkinan sebelum menarik kesimpulan dan mengirimkannya pada kita dalam bentuk response.

Sungguh, seperti otak manusia saja si Deepseek ini berpikirnya. Bedanya, tentu, kecepatan berpikir dia sungguh fantastis. Coba bandingkan dengan otak kita, yang terkadang terdistraksi banyak hal, lemot, kurang referensi, dan banyak lagi kelemahan otak kita dibandingkan si mesin cerdas itu.

Selain menggairahkan, kenyataan ini juga menakutkan, ya?

Tak usah aku berpikir jauh tentang keberadaan umat manusia di era AI "berkuasa" penuh.

Cukup kupikirkan saja kinerja otakku sendiri.

Aku harus mencegah otakku karatan. Aku harus memaksa otakku terangsang terus untuk berpikir.

Baca buku, salah satu caraku. Meditasi, mungkin itu perlu (sebenarnya sih, bukan mungkin lagi, tapi wajib. Tapi ya you know betapa malasnya aku).

Beberapa tulisan awal di blog ini purely hasil olah pikirku sendiri. Kentara dari pembahasan yang lompat-lompat dan tidak berisi.

Itu salah satu caraku juga untuk membuat otakku aktif berpikir, alih-alih menyerahkan proses penulisan pada AI.

Kurasa, dalam menggunakan AI, kita harus berpegang teguh selalu pada prinsip ini: kita adalah tuan, dan mesin cerdas itu adalah tukang yang siap kita perintah.

Bukan sebaliknya.

Subscribe to ESVDM

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
jamie@example.com
Subscribe